BAB
I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Indonesia merupakan negara yang penuh dengan
keberagaman, mulai dari keberagaman suku, bahasa, hingga agama. Kerukunan dan toleransi antar umat beragama merupakan konsekwensi
serta kebutuhan hakiki dari kemanusiaan yang universal, yang tidak dapat
ditolak dan wajib diusahakan oleh setiap insan beragama. Penghargaan terhadap
agama/umat beragama lain, hidup rukun dan damai dengan umat beragama lain,
bukan hanya merupakan kebutuhan dan tuntutan atau kewajiban keagamaan, tetapi
lebih luas dan dalam dari itu, yaitu karena kemanusiaan.
Oleh sebab itu pengetahuan
tentang agama lain sangat dibutuhkan, Sehingga tercipta kedamaian dan kerukunan
antar umat beragama, serta dapat mengetahui fenomena yang ada di agama lain.
Dalam makalah ini penulis mengambil judul Fenomena Yang Ada Di Agama Budha,
dengan maksud untuk berbagi pengetahuan agar pembaca lebih memahami tentang
agama ini. yang mana, dalam makalah ini akan dibahas tentang sejarah lahirnya agama Budha, pandangan agama Budha tentang Tuhan, pandangan agama Budha tentang reinkarnasi, pandangan agama Budha tentang karma.
2
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
SEJARAH
AGAMA BUDHA
Sejarah agama Buddha di mulai dari abad ke-6 SM sampai sekarang
dari lahirnya sang Buddha Siddharta Gautama.
Dengan ini, Budha adalah salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia.[1] Budha terbentuk dari kata kerja “budh” yang artinya
bangun, bangun dari dalam kesesatan dan keluar ditengah-tengah cahaya
pemandangan yang benar. Budha adalah orang yang mendapat pengetahuan dengan
tidak mendapat wahyu dari Tuhan dan bukan dari seorang guru. Sebagaimana
disebutkan dalam Mahavagga 1, 67,: “Aku sendiri yang mencapai pengetahuan, akan
kukatakan pengikut siapakah aku ini ? aku tak mempunyai guru, aku guru yang tak
ada bandingannya”.[2]
Budha bukanlah nama seseorang, melainkan gelar. Nama
pendiri agama Budha adalah Sidharta Gautama. Ia dilahirkan dari seorang Raja
Sudhodana di Kapilawastu, sebekah utara Benares di daerah Nepal pada tahun 566
SM. Diwaktu beliau dilahirkan, beberapa brahmana pandai meramalkan bahwa anak
ini akan meninggalkan kerajaan, dan akan menjadi bikshu. Mendengar ramalan ini,
ayahnya bertekad untuk menjadikan anak ini raja. Ia melakukan segala cara,
mencoba memikat hati putranya dengan memanjakannya dengan segala kenikmatan
hidup. Dengan cara demikian tidaklah imbul keinginan untuk meninggalkan segala
kenikmatan itu dan menggantinya dengan hidup yang serba berat dan penuh
penderitaan sebagai bikshu. Untuk Sidharta didirikan kerajaan yang indah-indah.
Di sekitarnya, hanya ada orang muda, sehat, dan cantik, hingga Sidharta tak
mengenal sakit, susah, sengsara, tua, dan kematian.[3]
Ia mendapat pengajaran yang sempurna dalam segala kecakapan
dan ilmu yang perlu bagi seorang kesatriya, sehingga dalam segala pertandingan
ia selalu menang. Ketika berusia 15 tahun, beliau menikah dengan seorang putri
dari negara tetangga yang bernama Yashodara, dan mendapat seorang putera yang
bernama Rahula. [4]
Sidharta adalah seorang yang tampaknya telah memiliki
seluruh hal yang diinginkan oleh manusia, seperti keluarga Sidharta memiliki
garis keturunan yang baik dari kedua orang tuanya, kekayaannya sebagai pewaris
tahta orang tuanya, keindahan fisik Sidharta yang berperawakan gagah dan
tampan, membangkitkan kepercayaan, serta istrinya yang tak ada bandingannya,
anggun bagaikan ratu dari surga, mantab pribadinya, gembira diaat siang dan
malam, kedudukannya tinggi, dan kehalusan budi yang luar biasa, yang telah
melahirkan seorang putera baginya.[5]
Walaupun memiliki semuanya di usia 20 tahun, ia merasakan
keresahan jiwa yang mendorongnya meninggalkan seluruh kekayaan duniawinya itu.
Secara kebetulan dan berurut-turut ia melihat peristiwa yang menggoncangkan
hidupnya, yaitu seorang tua jompo, orang sakit, mayat yang diangkut, dan
seorang pengemis. Meskipun sebelumnya sudah diatur sedemikian rupa oleh raja
Sudhodana, agar di tepi jalan jangan ada pemandangan yang dapat menimbulkan
pikiran tidak baik oleh Sidharta.[6]
Sidharta sangat tertarik oleh ketenangan dan kebahagiaan
yang bersinar dalam mata pengemis iu, oleh sebab itu, diputuskannya untuk
meninggalkan untuk meninggalkan kerajaan dengan segala kenikmatannya. Sidharta
pergi mengembara kehutan raya untuk mencari kebenaran yang mendatangkan
kebahagiaan bagi semua orang. Pada saat pergi, dewa membantunya. Ia pergi pada
suatu malam dengan menaiki kuda kanthaka dan diiringi oleh pengawalnya yang
bernama Ghanna. Pagi harinya, setelah jauh dari Kapilawastu ia mengganti
pakaiannya yang indah dengan pakaian yang sederhana, dan menyuruh pengawalnya
pulang membawa kudanya. Sidharta terus mengembara untuk mencari pengetahuan
batin yang setinggi-tingginya.[7]
Enam tahun ia mengembara namun belum juga memperoleh apa
yang dicarinya. Pernah ia menjumpai dua orang guru yang menyuruhnya untuk
menyiksa diri, namun ajaran itu belum juga dapat memberikan kepuasan baginya.
Sesudah ia yakin bahwa tidak ada gunanya menyiksa diri, barulah karena
keyakinannya sendiri, ia menemukan jalan yang dikehendakinya. Pada waktu ia
duduk di bawah pohon bodhi datanglah si dewa jahat menggoda, tapi dapat
dikalahkannya. Sesudah peristiwa iu, ia tahu sebab segala penderitaan didunia
ini, dan bagaimana cara menghilangkannya.[8]
Tapi lama ia bimbang, apakah ia akan menyebarkan
pengetahuannya itu atau tidak? Kemuadian ia menghadap kepada dewa Brahma dengan
memohon kepadanya atas nama para dewa dan semua manusia, supaya menyiarkan
pengetahuan ini. Sejak itulah Sidharta
menjadi Budha. Tepatnya ketia ia berusia 35 tahun, Ia menyiarkan keyakinannya
ke negeri-negeri suci selama 45 tahun. Ia melihat penganutnya semakin
bertambah, mulai dari rakyat biasa hingga kalangan kerajaan. Ketika berusia 80
tahun, ia meninggal atau dalam istilah
ke-Budha an ia naik ke Nirwana. Jenazahnya di bakar dengan upacara dengan
upacara kebesaran dan abunya di
bagi-bagikan kepada seluruh penganutnya. Lalu disimpan pula dalam stupa yang
istimewa.Bagi penganut budha, dinegerinya terdapat 4 tempat suci yaitu tempat
Budha lahir di Kapilawastu, pohon Bodhi dimana pikirannya terbuka, Benares
tempat ia mulai mengajarkan ajarannya, dan Kucinagara tempat Budha meninggal
dunia.[9]
B. TUHAN DALAM AGAMA
BUDHA
Sesungguhnya agama budha yang ada seperti yang sekarang ini
tak dapat disebut agama dalam arti yang sebenarnya. Karena tak ada dalam Budha
ajaran tentang Tuhan, kewajiban manusia terhadap tuhan, dan sebagainya. Seperti
yang terdapat dalam agama-agama lain. Dewa dalam agama Budha bersifat seperti
makhluk yang takluk terhadap hukum alam “rusak” dan “berubah” seperti manusia. Budha
Gautama sendiri bukanlah Tuhan atau penjelmaan Tuhan didunia ini, melainkan
seorang manusia biasa. Dalam agama Budha tidak pernah diajarkan, bahwa seorang
Budha itu menjadi pencipta alam ini, atau memerintah dunia, melainkan hanya
seorang guru yang memberikan pengajaran yang benar kepada manusia. Manusia
dalam agama Budha itu seluruhnya sama, tidak ada kelebihan satu sama lain,
kecuali tentang tingkat pengetahuannya.[21]
Budha menolak untuk mengungkapkan banyak pandangan tentang penciptaan dan menyatakan bahwa pertanyaan
tentang asal usul dunia adalah gangguan dan tidak relevan. Ketidakpatuhan dengan
gagasan tentang mahakuasa pencipta dewa dipandang oleh banyak orang sebagai
perbedaan utama antara Buddhisme dan agama-agama lain. Sebaliknya,
Buddhisme menekankan sistem hubungan kausal yang mendasari alam semesta yang
merupakan tatanan alam ( dharma) dan
sumber pencerahan. Tidak ada ketergantungan pada realitas fenomena
supranatural. Menurut ajaran Buddha manusia harus mempelajari Alam untuk
mencapai kebijaksanaan pribadi tentang sifat hal (dharma). umat Buddha menganggap
menghormati orang-orang tercerahkan yang sangat penting. Dua tradisi besar
Buddha berbeda dalam sikap hormat mereka. Theravada Buddhis melihat Buddha sebagai manusia yang
mencapai nirwana, dan dilahirkan kembali
untuk kepentingan orang lain.[22]
Umat Buddha menerima keberadaan makhluk
hidup di alam yang lebih tinggi, yang dikenal sebagai dewa, tetapi
mereka, seperti manusia. dan belum tentu lebih bijaksana dari kita. Bahkan Buddha sering
digambarkan sebagai guru dari beberapa dewa,, dan lebih unggul dari mereka. Ibadah umat
Buddha fokus pada hukum spiritual alam semesta untuk mencapai pencerahan. Dalam tradisi
tathagatagarbha, Buddha diidentifikasi dengan Dharmakaya, Realitas Tertinggi,
yang memiliki sifat-sifat dewa-seperti keabadian, sifat gaib dan kekekalan.
Buddha diambil sebagai Tuhan, sebagai Realitas Tertinggi itu sendiri yang turun
ke bumi dalam bentuk manusia untuk kebaikan umat manusia Konsep Buddha, tidak
pernah sebagai pencipta tetapi sebagai Cinta Ilahi bahwa atas dasar kasih
(karuna) diwujudkan dirinya dalam bentuk manusia untuk mengangkat penderitaan
kemanusiaan.[23]
Dalam Mahayana Buddhisme itu diajarkan bahwa
ada satu realitas yang fundamental, dalam dimensi tertinggi dan paling murni,
dialami sebagai Nirvana. Hal ini juga dikenal, seperti telah kita lihat,
sebagai Dharma-Body (dianggap sebagai bentuk akhir dari Menjadi) atau
"Suchness" ( Tathata dalam bahasa Sansekerta) bila dilihat
sebagai esensi dari segala sesuatu ... "Dharma-tubuh adalah keabadian,
kebahagiaan, jati diri dan kemurnian. Hal ini selamanya bebas dari semua
kelahiran, usia tua, sakit dan mati.[24]
C. REINKARNASI
Reinkarnasi atau t(um)itis, merujuk kepada kepercayaan
bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan
lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat
ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil
wujud tertentu sesuai dengan hasil pebuatannya terdahulu.[25]
Banyak yang menyatakan bahwa ajaran reinkarnasi
berasal dari negeri Timur: India, Cina, Nusantara. Atau berasal dari agama yang
lahir di Timur : Hindu, Budha, Taoisme, dan faham Kebatinan. Terdapat dua
aliran utama yaitu pertama, mereka yang mempercayai bahwa manusia akan terus
menerus lahir kembali. Mereka mempercayai bahwa manusia akan berhenti lahir
semula pada suatu ketika apabila mereka melakukan kebaikan yang mencukupi atau
apabila mendapat kesadaran agung (Nirvana) atau menyatu dengan Tuhan
(moksha).Dalam agama Buddha dipercayai bahwa adanya suatu proses kelahiran kembali
(Punabbhava). Semua makhluk hidup yang ada di alam semesta ini akan terus
menerus mengalami tumimbal lahir selama makhluk tersebut belum mencapai tingkat
kesucian Arahat.[26]
Kesemua itu, karmalah yang menentukan seseorang lahir
kedalam masa kebudayaan yang sesuai dengan karmanya.[27]
Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh Garuka Kamma yang artinya karma pada
detik kematiaannya, bila pada saat ia meninggal dia berpikiran baik maka ia
akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya ia akan terlahir di alam
yang menderitakan, sehingga segala sesuatu tergantung dari karma masing-masing.
Dalam filsafat Hindu dan Buddha, proses reinkarnasi memberi manusia kesempatan untuk menikmati kebahagiaan yang tertinggi. Hal tersebut terjadi apabila manusia tidak terpengaruh oleh kenikmatan maupun kesengsaraan duniawi sehingga tidak pernah merasakan duka, dan apabila mereka mengerti arti hidup yang sebenarnya.[28]
Dalam filsafat Hindu dan Buddha, proses reinkarnasi memberi manusia kesempatan untuk menikmati kebahagiaan yang tertinggi. Hal tersebut terjadi apabila manusia tidak terpengaruh oleh kenikmatan maupun kesengsaraan duniawi sehingga tidak pernah merasakan duka, dan apabila mereka mengerti arti hidup yang sebenarnya.[28]
D.
KARMA DALAM
AGAMA BUDHA[29]
Hukum
karma adalah salah satu ajaran yang penting dalam agama Buddha. Hukum karma
merupakan ajaran yang amat dalam dan rumit, maka untuk itu dibutuhkan suatu
uraian yang terperinci untuk memahaminya. Secara umum, karma berarti perbuatan. Umat Buddha memandang hukum karma sebagai hukum
kosmis tentang sebab dan akibat yang juga merupakan hukum moral. Menurut hukum ini
sesuatu (yang hidup maupun yang tidak hidup) yang muncul pasti ada sebabnya.
Tidak ada sesuatu yang muncul dari ketidakadaan. Rumusan agama Buddha
tentang sebab akibat adalah : “Dengan adanya ini, terjadilah itu. Dengan timbulnya ini, timbulah
itu. Dengan tidak adanya ini, maka tidak ada itu. Dengan lenyapnya ini, maka
lenyaplah itu”.
Contoh cara kerja hukum ini, adalah adanya suatu
keadaan disebabkan oleh suatu keadaan lain dan keadaan ini pun disebabkan oleh
keadaan lain pula, begitu seterusnya. Cara kerja hukum ini mirip dengan hukum
ilmu pengetahuan tentang aksi dan reaksi.
Hukum karma dapat di lihat dari 2 aspek,
yaitu aspek kosmis dan aspek moral. Hukum karma
dalam aspek kosmis meliputi alam fisik dan psikis. Dipandang dari sisi kosmis,
makhluk – makhluk hidup seperti manusia dan binatang adalah fenomena materi.
Keberadaan manusia dan binatang adalah fenomena relatif karena mereka ada
disebabkan adanya hal – hal lain seperti adanya makanan, minuman, matahari,
dunia dan sebagainya. Mereka mengalami perubahan, muncul dan lenyap, seperti semua
hal di dunia. Dunia pun akan mengalami proses perubahan, muncul dan lenyap.
Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa
walaupun aspek kosmis dari hukum karma Buddhis berlangung demikian, tetapi itu hanya
merupakan implikasi dari konsepnya sebagai hukum sebab dan
akibat. Yang sangat penting dari hukum ini adalah aspek kedua yang merupakan
hukum moral. Dalam aspek ini hukum karma memegang peranan yang penting dalam
ajaran etika Buddhis. Ajaran etika Buddhis tercermin dengan jelas dalam semua
ajaran yang disampaikan oleh Sang Buddha selama hidup dia.
Ajaran karma Buddhis sebagai hukum moral
menitik beratkan pada perbuatan – perbuatan manusia yang dilakukan melalui
perbuatanjasmani, ucapan dan pikiran.
Perbuatan perbuatan itu diklasifikasikan sebagai karma bila suatu perbuatan
dilakukan karena adanya niat atau kehendak. Suatu perbuatan tanpa niat atau kehendak tidak
dapat disebut karma karena perbuatan itu tidak akan menghasilkan akibat moral
bagi pembuatnya.
Karma atau
perbuatan dalam aspek moral mencakup nilai-nilai etika tentang baik dan buruk.
Hal ini merupakan konsep yang lebih luas dari pada persoalan tentang benar dan
salah bila dilihat dari sisi pandangan sehari hari tentang makna dari kata itu.
Apa yang dianggap benar menurut pandangan umum Mungkin tidak baik dalam
pengertian moral, demikian pula dengan kata buruk. Misalnya menurut pandangan
umum adalah benar bila tentara membunuh musuh dalam pertempuran. Tetapi
pembunuhan ini tidak benar menurut hukum moral. Menurut pandangan moral Buddhis
suatu pembunuhan adalah pelanggaran hukum moral, pembunuhan ini dipandang sebagai
perbuatan karma buruk. Ajaran agama Buddha menganjurkan kita untuk
mengembangkan perasaan cinta kasih (metta) dan kasih sayang (karuna) terhadap
semua makhluk. Anjuran ini meliputi perasaan memusuhi makhluk hidup harus
dilenyapkan.
Prinsip dasar dari hukum karma adalah barang
siapa yang menanam maka dia yang akan memetik hasilnya apakah hasil itu baik
atau buruk. Perbuatan baik atau buruk dinilai berdasarkan pada akibat yang
menyenangkan dan tidak menyenangkan yang dialami oleh pembuat. Seseorang yang
telah melakukan karma buruk pasti menderita karena menerima hasil perbuatannya
sendiri. Kita tidak mungkin menghindarkan diri dari akibat yang tidak
menyenangkan yang dihasilkan oleh karma buruk yang telah kita lakukan.
Dalam aspek moral, karma merupakan ajaran
kembar dengan kelahiran kembali. Menurut hukum sebab akibat ini, seseorang
adalah hasil perbuatannya sendiri. Ia sendiri yang menyebabkan keberadaanya dan
ia sendiri yang bertanggung jawab untuk masa depannya. Pada kelahiran yang
lampau pun seseorang telah menyatakan kehendak melalui perbuatan jasmani,
ucapan atau pikiran, maka berdasarkan pada perbuatan perbuatannya itu sekarang ia
hidup. Kondisi dan lingkungan tempat kelahiran seseorang ditentukan oleh karma
dari kehidupannya yang lampau. Pada kehidupan sekarang ini, seseorang menerima
hasil sebagai akibat karmanya yang lampau dan melakukan karma-karma yang baru.
Karma baru dan karma lampau yang belum berbuah akan membentuk kondisi tempat
kelahirannya pada masa kehidupan yang berikutnya. Setiap orang memiliki kebebasan untuk
melakukan perbuatan baik atau buruk. Bila pada kehidupan ini seseorang telah
melakukan perbuatan buruk dan ia menyadari bahwa perbuatannya itu adalah buruk
serta akan menghasilkan akibat yang tidak menyenangkan, maka agar akibat karma
buruk itu tidak terlalu berat atau tidak efektif ia harus melakukan banyak
perbuatan baik.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Sejarah agama Buddha di mulai dari abad ke-6 SM sampai sekarang
dari lahirnya sang Buddha Siddharta Gautama. Budha terbentuk dari kata kerja “budh” yang artinya bangun,
bangun dari dalam kesesatan dan keluar ditengah-tengah cahaya pemandangan yang
benar. Agama Budha lahir dari seorang manusia keturunan kerajaan, namun telah
mendapat pencerahan.
Dalam agama Budha tidak
ada ajaran tentang Tuhan, kewajiban manusia terhadap tuhan, dan sebagainya.
Seperti yang terdapat dalam agama-agama lain. Dewa dalam agama Budha bersifat
seperti makhluk yang takluk terhadap hukum alam “rusak” dan “berubah” seperti
manusia. Budha Gautama sendiri bukanlah Tuhan atau penjelmaan
Tuhan didunia ini, melainkan seorang manusia biasa. Dalam tradisi
tathagatagarbha, Buddha diidentifikasi dengan Dharmakaya,
Realitas Tertinggi, yang memiliki sifat-sifat dewa-seperti keabadian, sifat
gaib dan kekekalan. Buddha diambil sebagai Tuhan, sebagai Realitas Tertinggi
itu sendiri yang turun ke bumi dalam bentuk manusia untuk kebaikan umat manusia
Konsep Buddha, tidak pernah sebagai pencipta tetapi sebagai Cinta Ilahi bahwa
atas dasar kasih (karuna) diwujudkan dirinya dalam bentuk manusia untuk
mengangkat penderitaan kemanusiaan.
Dalam agama Buddha dipercayai bahwa adanya suatu
proses kelahiran kembali (Punabbhava). Semua makhluk hidup yang ada di alam
semesta ini akan terus menerus mengalami tumimbal lahir selama makhluk tersebut
belum mencapai tingkat kesucian Arahat. Alam kelahiran ditentukan oleh karma
makhluk tersebut
[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_agama_Buddha/29-03-2015,14:03
[3] Ibid
[4] Ibid
[5]
Smith,Huston.Agama-agama manusia.(Jakarta:Yayasan
Obor Indonesia),hlm.107
[6] Rifa’i,Drs.moh.Perbandingan Agama.(Semarang:WICAKSANA,1965),hlm.93
[7] ibid
[8] Ibid
[9] Rifa’i,Drs.moh.Perbandingan Agama.(Semarang:WICAKSANA,1965),hlm.94
[10] Wiwin
Siti Aminah, Sejarah Teologi Dan Etika Agama-agama, Yogyakarta:DIAN/INTERFIDEI,
2005, hlm.24
[11]
Ibid.hlm.25
[12]
Ibid.hlm.26
[13]
Ibid.hlm.288
[14]
Ibid.hlm.292
[15]
Ibid.hlm.294
[16] Ibid.hlm.295
[17]
Ibid.hlm.296
[18]
Ibid.hlm.297
[19]
Ibid.hlm.299
[20]
Ibid.hlm.300
[21] ibid
[22] http://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan_dalam_agama_Buddha/07-04-2015,10:19
[23] Ibid
[24] Ibid
[25]
http://xnews-hawkson-blogmisteri.blogspot.com/2010/09/memahami-fenomena-reinkarnasi-dalam.html/08-04-2015,0829
[26]Ibid
[27]
Drs.Syamsudin Abdullah,Drs.Harits Abdul Salam, Drs.Fathuddin A.Ghani,
Drs.Burhanuddin Daya. Fenomenologi Agama.
(Jakarta:1985)hlm.43
[28] Ibid
[29] http://id.wikipedia.org/wiki/Karma_dalam_agama_Buddha/06-04-2015,15:19
DAFTAR
PUSTAKA
Rifa’i,Drs.moh.1965.Perbandingan Agama.Semarang:WICAKSANA
Smith,Huston.2001.Agama-agama manusia.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia
Drs.Syamsudin Abdullah,Drs.Harits Abdul
Salam, Drs.Fathuddin A.Ghani, Drs.Burhanuddin Daya.1985.Fenomenologi Agama.Jakarta
Siti Aminah,Wiwin.2005.Sejarah Teologi Dan Etika Agama-agama,Yogyakarta:DIAN/INTERFIDEI
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_agama_Buddha/29-03-2015,14:03
http://xnews-hawkson-blogmisteri.blogspot.com/2010/09/memahami-fenomena
reinkarnasi-dalam.html/08-04-2015,08:29

Agama Budha muncul karena pengetahuan yang diperoleh Sidharta. dalam perjalanan Hidupnya sebelum memperoleh pengetahuan, Sidharta sering menyebut kata "Dewa Brahma" dan dewa-dewa yang lain. Apakah hal itu berarti Sidharta sudah mempunyai agama, atau sudah mempunyai keyakinan sebelum memperoleh pengetahuan? Lalu bagaimana sejarah cerita dari penyebutan Dewa-Dewa itu hingga diagung-agungkan oleh orang-orang yang beragama Hindhu?
BalasHapusKalau dalam agama budha tidak ada ajaran tentang tuhan, dan kewajiban manusia terhadap tuhan. Lalu, bagaimana konsep ketuhanan yang di percayai agama budha??
BalasHapusMenurut agama budha hukum karma dapat dilihat dari 2 aspek, yaitu aspek kosmis dan aspek moral. Mohon jelaskan dan berikan contoh dari aspek kosmis dan aspek moral tersebut ?
BalasHapusApa bedanya antara karma dan kausalitas?
BalasHapusDalam artikel ini dijelaskan bahwa dalam agama Budha tidak terdapat ajaran tentang Tuhan dan kewajiban terhadap Tuhan.Lalu bagaimanakah kehidupan spiritual penganut ajaran agama Budha apabila tidak ada kepercayaan tentang Tuhan?
BalasHapusgood !! ^_^
BalasHapusgod job hehe
BalasHapusjika dalam budha tidak ada yang namanya ajaran ketuhanan. lalu apa maksud dari "Sidharta adalah seorang yang tampaknya telah memiliki seluruh hal yang diinginkan oleh manusia" apa peran sidharta dalam agama hindu, dan bagaimana kedudukan serta wewenangnya?
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusDalam agama Budha tidak pernah diajarkan, bahwa seorang Budha itu menjadi pencipta alam ini, atau memerintah dunia, melainkan hanya seorang guru yang memberikan pengajaran yang benar kepada manusia. Manusia dalam agama Budha itu seluruhnya sama, tidak ada kelebihan satu sama lain, kecuali tentang tingkat pengetahuannya
BalasHapuspengetahuan yang bagaimana yang di maksud sehinga membedakan manusia?...........
Sesungguhnya agama budha yang ada seperti yang sekarang ini tak dapat disebut agama dalam arti yang sebenarnya. Karena tak ada dalam Budha ajaran tentang Tuhan, kewajiban manusia terhadap tuhan, dan sebagainya. Seperti yang terdapat dalam agama-agama lain. dari uraian di atas brarti bagi saya budha jangan di jadikan agama karena tidak punya tuhan
BalasHapusDi Kitab Jataka Pali (cerita kehidupan lampau Buddha Gotama sebagai Bodhisatta) Bodhisatta tidak pernah terlahir sebagai seorang perempuan, padahal sebagai hewan ada dalam cerita tersebut.... Bagaimana mengenai sejarah dalam ayat kitab itu? Lalu bagaimana anda menanggapi?
BalasHapusmau tanya pertanyaan yang sama,,, kenapa sih orang budha kok gundul-gundul? apa filosofinya?? trimakasih... :)
BalasHapusApakah beda antara hukum karma dan hukum timbal balik ?
BalasHapusMohon diberikan contoh ny yaa
Terimakasih :)
waktu saya ke surabaya ada patung budha 4 wajah .... padahal seharusnya yang memiliki banyak wajah kan dewa-dewa dalam agama hindu .... bisa di jelaskan bagaimana sejarahnya ?
BalasHapustrus apa perbedaan reinkarnasi dalam agama hindu dan budha ?
lanjutkan.uji coba tes ting
BalasHapusDalam agama Budha ada 3 aliran yaitu Theravada, Mahayana dan Tantrayana. Yang ingin saya tanyakan Mengapa dalam ajaran Mahayana kebanyakan ajarannya itu lebihmengarah ke ajaran Bodhisatva?
BalasHapusyang disebut Bodhisatwa itu siapa?
BalasHapusdalam reinkarnasi agama budha tersebut ketika lahir kembali itu dalam wujud apa?
BalasHapusdalam reinkarnasi agama budha tersebut ketika lahir kembali itu dalam wujud apa?
BalasHapussiapa yang disembah dalam agama budha?
BalasHapus